HOW TO BE A GOOD AUTHOR

“Fanfiction merupakan sebuah seni, memang. Kreasikan apapun yang tengah bergejolak di dalam otak dan pikiranmu. Tapi, hey.. menjadi seorang author fanfiksi juga ada aturannya, bung!”

Selama hampir 5 tahun gue bergelut dalam dunia KPOP, dan selama itu pula gue kenal sama yang namanya fanfiction. Apa itu fanfiction? Fanfiction yang dalam bahasa Indonesia disebut fanfiksi ini merupakan sebuah karangan cerita dimana di dalamnya melibatkan banyak tokoh-tokoh idola.

Gue udah mengenal banyak sekali genre cerita sampai pada jenis kepribadian dan kemampuan menulis para authornya sendiri. Itu semua terlihat dari bagaimana para author itu mencitrakan kepribadiannya lewat tulisan-tulisan yang mereka buat. Dari yang alay sampai yang setingkat penulis novel terkenal, hahaha. Dan dari situpun gue akhirnya belajar bagaimana menjadi seorang author yang baik.

Well, sebelumnya.. izinkan penulis amatir ini untuk menunjukkan bagaimana kriteria author yang mungkin masuk dalam daftar ‘blacklist’ nya. Perlu sebelumnya kalian tau, kalau selera kita dalam menentukan baik buruknya seorang author itu berbeda.

Pada intinya, kurang lebih inilah jenis-jenis author yang tidak ataupun hanya sampai pada kata kurang gue suka. Bisa dibilang ini adalah hal-hal yang bisa berdampak pada hilangnya mood gue untuk menikmati karya dari author tersebut. Dan sekali lagi, ini hanyalah murni pendapat milik gue selaku penulis dan gue yakin gak semua yang gue tulis disini sesuai dengan selera kalian. Check It Out!

1.

Menggunakan main cast yang tidak jelas. Lebih parah lagi ketika cast ‘random’ nya itu dimaksudkan sebagai si author itu sendiri. LOL. Itu niatnya curcol ngayal ber-ini itu sama bias apa gimana?

Misalnya nih, ya. Main cast : Park Chanyeol, Kang Sera. Dan ternyata si Sera ini dimaksudkan sebagai author itu sendiri. Jujur, gue jijik. Geli tau gak. Gue berasa lagi ngebaca curcolannya si author yang lagi bertele-tele ria sama biasnya. Gue yang seharusnya menikmati jalan cerita malah jadi risih sendiri.

Makannya sampai sekarang pun gue suka males baca-baca fanfiction yang main castnya ngalor-ngidul gak jelas. Alasan utama yang sebenarnya adalah gue sama sekali gak dapet feel. Feelnya sudah terasa berbeda ketika gue membaca fanfict dengan main cast Jonghyun – Luna dibanding membaca fanfiction dengan main cast Jonghyun (SHINee) – Park Yunyun atau apalah itu.

Ketika gue ngebayangin sosok Luna, oke dapet! Ketika gue ngebayangin sosok si Yunyun, oh tidak! Gelap! Duh.. makan otak banget.

Salah seorang author kesayangan gue jaman bahuela (Hellen)  pernah bilang : “karakter Hyoyeon ini sebenarnya menggambarkan aku, tapi karena aku takut merusak jalan ceritanya dengan menyelipkan namaku sendiri, lebih baik aku memasukkan Hyoyeon (SNSD) sebagai wakilku..”

2.

Menyelipkan komentar ‘random’ di dalamnya. Ini bener-bener mengganggu acara membaca gue yang khidmat. Gimana rasanya ketika lo udah siap-siap nangis sama jalan ceritanya dan tiba-tiba bagai jailangkung yang tak diundang, muncul kalimat seperti ini : Kyuhyun mulai menitikkan air matanya *omo.. kasian kyuppa /elus elus/*

Seketika gue langsung krenyess.. bagai nelen minyak jelantah se-ember dan batal nangis. Lha gimana sih gue juga bingung. Itu cerita dia yang bikin.. kenapa dikasihani sendiri? Komentar seperti itu seharusnya reader yang bilang, bukan si  authornya.

Adalagi nih yang lebih parah. Misalnya ketika muncul potongan cerita seperti ini : Jessica mengeluarkan smirk disusul tawa anak buahnya dengan puas *tendang Jessetan ke laut*

Hahaha krikk banget sumpah! Ini mah alibi si authornya aja sebagai antifans. Author kok jadi antifans. Menurut gue seorang author itu harus bersikap netral.

Boleh, sih seorang author membenci seorang atau beberapa idola. Namanya juga dia cuma fans biasa yang tengah dalam masa labilnya. Tapi tidak sepantasnya juga rasa bencinya itu dituangkan di dalam karyanya.

Banyak resiko yang mungkin didapat. Beberapa diantaranya yaitu munculnya fanwar di bagian komentar, atau bisa juga author kehilangan beberapa reader yang merupakan fans dari idola yang author benci.

Apalagi ketika Jonghyun – Yunyun yang jadi pemain utamanya, sedangkan tokoh antagonis bukanlah nama random lagi melainkan Jessica SNSD serta karakter Jessica yang dibuatnya sendiri itu dijelek-jelekan sendiri pula, oh.. Tuhan. Makin komplekslah kemuakan gue hahaha…

3.

Memasukkan dialog ‘random’ ke dalam cerita. Ini bener-bener hal yang lebih menjijikkan dari apapun, sumpah. Fungsinya hampir sama seperti yang gue bilang di nomor 2 di atas, tapi efeknya jauh lebih memuakkan.

Contoh kecilnya aja seperti ini nih..

“Taemin berjalan pelan menuju ke arah belakang Sulli yang sedang mengobrol dengan Jiyoung di sudut gedung olahraga dan tiba-tiba.. blakk! Rok Sullipun terangkat sekilas diiringi jeritan Sulli yang membahana ke seluruh ruangan diikuti gelak tawa dari Taemin dan teman-teman yang lainnya.

Author : ih.. Taeminie mulai byuntae..

Taemin : salah sendiri.. ngapain author ngasih jalan cerita kayak gini??

Author : oh.. iya ya”

. . . KRIIIIIKKKK…….. sumpah gue muak sama yang begituan! Ada 2 hal yang bisa gue simpulin dari gambaran di atas. Pertama, author tersebut membuat para reader terganggu konsentrasinya dengan jalan cerita yang terpotong oleh hal-hal random seperti itu.

Kedua, authornya bodoh. Dengan mengetik dialog seperti itupun mestinya dia sudah sadar bahwa yang dia lakukan itu ‘kurang kerjaan’. Tapi kemudian dia pura-pura bodoh dan bilang ‘oh, iya ya’. Nah.. dari yang pura-pura bodoh jadi kelihatan bego beneran.

Hal-hal serupa juga berlaku untuk dialog-dialog yang lain. Yang jelas dialog-dialog random seperti itu (dan kebanyakan berisi percakapan antara author dengan cast-nya) sangat membuat para reader terganggu akan kenyamanan untuk menikmati ceritanya.

4.

Memakai aksen bahasa gaul khas Indonesia. Selera gue mengatakan bahwa gue kurang begitu suka sama cerita / fanfiksi yang memakai aksen “elo – gue” di dalam ceritanya. Pengecualian untuk ‘beberapa’ fanfiksi bergenre komedi, ya. Kenapa beberapa? Karena gak semua genre komedi cocok memakai aksen seperti itu, takutnya jatuhnya malah garing.

Entahlah.. mungkin karena gue terbiasa disuguhi drama-drama Korea yang selalu memakai aksen “aku – kamu – kau – saya – anda” jadi berasa aneh aja ketika gue membaca fanfiction (kpop) yang memakai aksen bahasa ‘gaul’ semacem itu yang mana gue udah menganggap bahwa fanfiksi yang gue baca merupakan drama Korea versi teksnya.

Gue kurang bisa buat mendapatkan feel-nya. Sama ketika waktu gue nonton drama ‘That Winter, The Wind Blows’ di salah satu stasiun TV lokal dimana para dubbernya memakai aksen aneh seperti ‘nggak papa’ dan itu bener-bener menggelitik kuping gue dan seketika.. KLIKK! Langsung gue ganti channelnya hahaha..

5.

Terlalu banyak menyelipkan kata-kata berbahasa Korea. Menurut gue hal-hal semacem itu termasuk mengganggu juga. Kesan ‘baku’ dalam cerita tersebut serasa hilang. Enak nggak sih baca bacaan yang bahasanya campur-campur nggak karuan? Bikin sakit mata.

Sekedar memakai kata panggilan seperti oppa – unnie – noona – hyung aja udah cukup gue rasa. Atau sedikit membumbuinya dengan beberapa bahasa Korea lain juga silahkan, asalkan sewajarnya saja. Sekedar memperdalam karakter sebagai tokoh berkewarganegaraan Korea.

Potongan kata seperti namja – yeoja (lelaki – perempuan), molla (tidak tau), aegi (bayi), jeongmal (sungguh), andwae (jangan) dan potongan-potongan kata lainnya menurut gue gak perlu. Kita cukup menyelipkan sekitar 5%  kata berbahasa Korea dari masing-masing karya yang kita buat.

Bahkan menurut gue, kalimat seperti “pegang tanganku yang erat, sayang..” itu jauh lebih berkesan manisnya daripada yang seperti “pegang tanganku yang erat, yeobo..” atau mungkin kalimat seperti “imut sekali..” jauh lebih bisa diresapi maknanya ketimbang “kyeopta sekali..”

Bukankah begitu?

6.

Author bawel. Apa sih maksudnya?

Gue yakin bagi kalian yang sangat mencintai dunia fanfiksi pasti pernah nemuin kalimat semacem ini : “No silent reader. Bagi yang gak kasih komentar gue sumpahin jomblo seumur hidup..” atau “Yang gak komentar matanya bintitan..”

Wait.. apa pantas seorang author berbicara seperti itu di depan para readernya?

Hal-hal semacem itu biasanya bikin gue males duluan bahkan sebelum baca fanfic-nya. Mencerminkan sekali bahwa si authornya itu punya kepribadian nyebelin dan ‘gak woles’.

Sebenernya kan bisa dibikin agak kalem sedikit seperti “jangan lupa komentarnya ya, atau setidaknya ninggalin jejak, lah..” atau “mohon untuk meninggalkan komentar ya demi semangat menulis saya yang lebih baik..” nah yang seperti itu kan enak.

Gini ya, seorang penulis itu ibarat seorang penyanyi juga. Bayangkan ketika seorang penyanyi bernyanyi di atas panggung kemudian dia berteriak ke seluruh penonton dengan kalimat seperti ini : “lo semua udah dengerin lagu gue. Jadi.. kalo lo semua gak beli album gue, gue sumpahin lo semua matanya bintitan..”

Pantaskah?

Sementara belum tentu lagu yang penyanyi itu bawakan dianggap bagus oleh penonton dan penyanyi itu begitu memaksa para penonton untuk membeli albumnya. Nah.. yang ada juga dilemparin telor busuk dan tomat sama penonton.

Hal semacem itupun juga berlaku buat seorang author. Hey.. sadarlah. Tidak semua karya kita itu dianggap bagus oleh para pembaca dan mereka pun juga sebenarnya tidak memiliki ikatan wajib untuk memberikan komentar. Itu hak mereka. Mungkin ada beberapa di antara mereka yang beranggapan bahwa ‘cerita ini tidak menarik’ dan daripada berkomentar jujur dan menyakiti hati si author jadi dia memilih diam.

Atau mungkin mereka berpikir ‘aku bingung harus berkomentar apa’ bahkan bisa juga seperti ‘aku tidak paham dengan alur ceritanya’ dan hal-hal lainnya jadi menurut gue wajar-wajar aja mereka bungkam dan memilih untuk tidak memberi komentar.

Jadi please, jangan terlalu percaya diri dulu dengan sebuah karya. Jadilah author yang bijak niscaya selama karya-karya lo bagus dan berkesan lo bakal jadi idola dadakan di dunia maya. Percaya atau enggak, sih..

Tanamkan tekad dalam diri kita sendiri bahwa kita membuat sebuah karya tulis bukan untuk mencari reader setia, melainkan murni tulus untuk menyenangkan hati orang yang membacanya. Itu doang rasanya udah cukup menurut gue. Seperti ketika kita menabung, kita memang terlihat hanya mendapatkan kesia-siaan tapi jika dipahami lebih lanjut akan ada banyak pahala atau ganjaran yang mengalir dalam diri kita secara tidak sadar.

Oh.. gue lagi edisi beriman kayaknya HAHAHA…

7.

Jalan cerita yang kurang masuk akal. Oke yang gue maksud disini bukanlah cerita bergenre fantasy. Gue justru termasuk penikmat genre fantasy. Yang gue maksud disini adalah.. mungkin seperti.. fujoshi / yaoi?

Yah.. memang bukan masalah ketika ini hanya sekedar kisah cinta-cintaan biasa antara sepasang manusia ‘sejenis’. Memang hal-hal menyimpang seperti itu ada dan bahkan sudah sedikit membudaya di dunia barat sana.

Tapi ketika sudah mengarah ke ‘lelaki hamil’ itu bener-bener.. yah.. gue sendiri juga bingung. Ini bukanlah sebuah cerita yang bergenre fantasy, tapi hal-hal yang tidak masuk akal dimasukkan ke dalam cerita ini.

Menurut lo harus diberi nama apa genre yang seperti itu?

Cerita-cerita semacem itu bikin gue pusing sendiri. Kadang kita tidak sadar bahwa kita sedang ‘dibodohi’ oleh si authornya. Dengan gampangnya si A melakukan transgender dan diterima secara baik dan wajar oleh semua orang.

Hey.. mana ada hal yang seperti itu? No. Harus ada liku-liku lain yang menghalangi. Seperti dikucilkan, dihina, dibuang oleh orang tua..

Tapi sayangnya genre yaoi – fujoshi yang sering gue baca, jalan ceritanya itu terasa mulus halus tanpa beban seolah hal-hal semacem itu adalah hal yang wajar. Bukankah itu yang namanya pembodohan publik? Pembaca mengangguk-angguk saja ketika sedang membaca ceritanya seolah meng-iyakan sementara dalam otaknya sendiri berpikir ‘apa mungkin hal seperti ini bisa terjadi?’

Seperti keledai dungu..

Mungkin ini hanyalah kreasi fanfiksi biasa. Ini seni.. kita bebas berkreasi. Tapi apa bedanya dengan sinetron-sinetron lokal yang sifatnya membodohi seperti tukang haji naik bubur yang bahkan letak setting ‘naik haji’nya itu dimana kita bahkan gak pernah tau, atau si A yang dulunya mati kemudian hidup lagi tanpa sebab yang jelas, atau si A dan si B yang tertukar antara orang tua kaya dan miskin.

Apa itu juga termasuk seni? Apa bedanya dengan yang seperti itu?

Karena bagi gue seni itu menghibur.. bukan membodohi. Think again.. dear..

Tapi gue pernah baca satu genre fujoshi yang cukup menarik dimana kedua pengidap homoseksual itu mati dibunuh oleh seorang wanita yang merasa dihianati oleh suami dan kakak kandungnya sendiri. Dan inilah yang mana gue maksud real dan masuk akal dimana perjalanan hidup pasangan sejenis itu semestinya gak semulus yang kita kira.

Nah.. selama kalian menghindari hal-hal di atas menurut gue karya-karya kalian sudah termasuk dalam cerita fiksi yang ‘layak baca’. Dan akan lebih bagus lagi kalau ditambah sedikit deskripsi penjelas pada beberapa kalimatnya.

Misalnya, ketika kita menyusun kalimat seperti “Minho tak bisa mengalihkan pandangan dari sosok gadis yang kini tengah berada tepat di hadapannya. Krystal terlihat cantik sekali. Minho seakan kehabisan kata-kata bahkan untuk sekedar memuji.”

Kalimat tersebut bisa diperinci agar lebih indah seperti “Minho tak bisa mengalihkan pandangan dari sosok gadis yang kini tengah berada tepat di hadapannya. Krsytal terlihat cantik sekali. Berbalut dress biru pastel selutut yang lembut dengan sebuah pita putih kecil di salah satu sisi pinggangnya, juga sebuah bandana dengan warna senada melingkar di kepalanya. Manis sekali. Minho seakan kehabisan kata-kata bahkan untuk sekedar memuji.”

Kalau gue lihat ini adalah yang paling banyak menjadi kelemahan para author. Terkadang mereka hanya asal bercerita tanpa memberi sedikit bumbu untuk memperindah dan memperjelas tulisannya. Tapi jujur gue sendiri mungkin juga lemah di bagian ini hahaha…

Mendeskripsikan sesuatu itu susah susah gampang, lho…

Tapi satu yang tak kalah penting dalam teknik penulisan, yaitu jangan lupa untuk memakai EYD yang baik dan benar dalam bercerita supaya terlihat rapi serta pembacapun bisa lebih memahami objek bacaan.

Dan inilah author yang paling gue suka. Dia yang selama ini secara gak sadar telah memberi beberapa pelajaran ke gue gimana caranya menjadi seorang author yang baik. Dia adalah spesialis romance. Gue lebih suka manggil dia dengan sebutan author Rizuka. Dia masih aktif sampai sekarang. Memberi warna pada kehidupan gue yang garing hahaha…

Salah satu yang gue kagumi dari karyanya adalah ‘kepandaiannya dalam menulis kalimat-kalimat cantik yang imut’. Seperti yang gue bilang sebelumnya, dia ini spesialis romance, jadi gue yakin tulisan dia bisa membuat para pembaca menggeliat horizontal – vertikal saking manisnya tulisan yang dia buat.

Salah satu potongan scene favorit gue adalah ini..

“Kau mengucapkan berapa harapan tadi? Lama sekali kau memejamkan mata,” Jonghyun langsung ke tujuan. Digigitnya sedikit ujung kue itu.

“Banyak. Dua puluh impian, hahaha~” Luna tertawa.

“… Apa didalamnya ada impian tentang aku?” Jonghyun menatapnya sambil menghabiskan kue.

“Tidak,” geleng Luna mantap. Tapi buru-buru ia sambung kembali. “Kau adalah impian yang sudah kudapat. Untuk apa aku minta lagi?”

Aww.. ‘cheesy’. Romantis, kan? Dia bener-bener handal dalam menyusun kalimat-kalimat cantik dan juga rayuan-rayuan yang super cheesy tapi manis. Gue pikir.. mungkin di luar sana dia adalah sosok cewek yang.. romantis? Hahaha…

Terkadang banyak pesan moral tersembunyi yang bisa kita petik lewat karya-karya yang dia buat. Seperti dalam fanfiction berjudul Little Happines yang mengajari kita untuk selalu bersyukur atas setiap kebahagiaan kecil yang kita dapat. Atau His Wife yang menceritakan tentang arti sebuah kesabaran dan kesetiaan.

Dan gue justru lebih suka karya ‘oneshoot’ buatan dia. Karena cerita pendek (drable) yang dia buat itu kalimat-kalimat manisnya malah lebih terasa, lebih merinding. Silahkan berkunjung ke blognya di http://hyeorikazuka.wordpress.com , dan kalian akan lebih belajar banyak bagaimana untuk menjadi seorang author yang baik. Tentu saja lewat membaca karya-karyanya yang sarat akan pesan positif.

Untuk yang terakhir, terimakasih untuk waktu panjangnya.. semoga artikel amatir ini bisa sedikit menambah wawasan dan memberi manfaat positif bagi yang membacanya, ya… sampai jumpa.. annyeong..!!

Iklan

13 responses to “HOW TO BE A GOOD AUTHOR”

  1. ocha says :

    sangat bermanfaat..
    Terimakasih! =D

  2. Rohis Facebook says :

    salam kenal, dr anak Rohis 🙂

  3. novasarastini says :

    Anyyeong…nepatin janji buat mampir 😊. Aku juga termasuk orang yg suka banget baca FF. Tapi sayang nya aku lebih suka FF yaoi/BL, u/ M-PREG pertama kali aku baca ak ga berhenti ketawa sampe mau nangis, aneh aja rasanya, ngebayangin ga dapet feel sama sekali. Tapi entah kenapa hal itu berubah semenjak ak baca ff yunjae (krn couple ini yg buat ak suka bca ff) dr salah satu author, aku suka cara nulisnya, alurnya tersusun, kata²nya ga alay, perhatian banget sama EYD, yg akhirnya buat aku bs berimajinasi liar(hahaha). Tapi, kalo ak baca ff SHINee yg M-PREG (nah ini biasanya Key/Tetem, uke yg hamil) ak benar² ga bsa bayangin sama sekali, ga dapet feel sama sekali. Memang pndpt org beda², tp klo aku baca ff SHINee-FX (ato sama GB lainnya) aku ga bsa berimajinasi baca ff itu. Miris banget emang aku lebih suka yaoi (hahahha). Baca Ff aku jg ga smbarangan baca, ak pasti baca yg bener² oke & ga seenak jidat buat ff yg entah itu bs disebut ff. Hehehee, kayaknya ku komen kpanjangan juga 😁

    • mhchoi91 says :

      Hahaha..
      Well.. akupun juga sejujurnya sama kayak kamu.. suka milih2 cast.. ogah2an baca ff selain straight nya shinee f(x) hehehe.. bahkan kalo bisa couple nya harus pas.. kalo gak gitu rasanya udah males xD ya emang bener.. itu soal selera..
      Tapi soal cowok hamil.. aku asli angkat tangan.. beneran gak bisa nerima yang begituan.. yaoi is ok tapi.. taemin.. key.. sungmin.. heechul.. d.o.. disuruh hamil??? GELI. seriusan ._.
      Wkwk makasih yaaaa udah mau repot2 mampir hahhaha =D

      • novasarastini says :

        Kayaknya perlu dicoba nii baca ff shinee f(x), biasany klo udh straight ak close aja..hahaha… otak ku terlanjur yaoi/bl… sama ak mending yaoi doang tanpa hamil²an trtma buat tetem sm key….
        No prob 😊, aku setuju sama tulisan mu 😊

    • mhchoi91 says :

      Iya coba aja hahaha.. semoga kuat yaa xD aku saranin baca ff shinee f(x) di blog itu aja.. ceritanya bagus2..
      Aku dulu termasuk bukan penggemar couple straight shinee fx ini sih.. atau kasarnya bilang aja benci. tapi ya gitu. Karma ._.

  4. sarahayd says :

    bener banget chingu . author rizuka emang keren banget gunain kata2 / ngerangkai kata2 buat fanfictionnya . aku juga ngefans abis sama author rizuka . apa lagi kalau buat yang kisah krysber & taelli . akhhhh kerenn . hehe .

    anyoeng chingu . aku baru tahu chingu juga ada blog ini . aigoo . aku bakal sering mampir deh . buat fanfiction yang banyak ya chingu .

    salam . s.t (storynotebok)

    • mhchoi91 says :

      Krysber? Ada ya? Setauku dia cuma bikin straight hehehe koreksi kalau aku salah 😀

      Makasih yaa.. ^^ waah fanfiction? Umm.. sejauh ini aku cuma aktif sebagai reader sih.. sebenernya aku nggak sekreatif itu bikin fanfiction ^^
      2 ff di blog ini juga karena curcolan -upps hahaha 😀

      ngomong2.. kamu ini admin blog storynotebok kah? Wah.. aku udah beberapa kali juga mampir kesana ^^
      ffnya keren2 ^^

      • sarahayd says :

        eh salah . maksudku . keyber . aigooo salah nulis . hihi mianhe

        masama chingu ^^ . bagus kok ff chingu . lanjutkan !! hihi

        iy ak admin storynotebok . hihi
        gumawoooo . aku juga tahu chingu selalu mampir di ff karya ku kok makannya ak hafal chingu , hihi

        gumawooo chingu dh baca ff.ku . hehe

  5. Regita Hafnie says :

    Yang nomor satu kupikir aku ga setuju ^^ aku emang sering bikin ff dengan cast cewe oc, BUT itu ga perlu di bayangin jadi authornya karena aku pribadi selalu menyertakan foto si oc itu sendiri. Jadi ga perlu mikir keras buat bayangin. Dan gua usahain selalu pake foto castnya sebagai cover.
    Kedua, gua setuju :v gua langsung envy setiap baca komenan author buat ffnya sendiri :v ini seperti, penulisnya idiot :”v
    Yang ketiga juga, errr sangat menjijikan :v daripada bikin begituan, kenapa ga bikin karya fake chat with bias aja :v
    Keempat juga , gua jarang baca ff dengan bahasa gaul begitu :v ga cocok gitu sama karakternya yang kekoreaan :3
    Nomer lima gua dulu begitu, tapi seiirng berjalannya waktu, gua rasa gua udah bikin cukup banyak kemajuan dengan mengurangi teks bahasa korea dalam dialog :3
    Yang 6, gua ga pernah maksa buat komen kayanya :v tapi ya gua rasa hal yang wajr kalo kesel karena punya banyak siders. Yah, walaupun gua ga sampe tahap nyumpahin sih :v kadang malah gua kesel sendiri saat baca tulisan author lain yang begini “siders, mati aja”
    Yang 7, jujur gua penikmat ff yaoi. Tapi disini gua stuju sama elu. Cowok bisa hamil? Masuk akal kah? Kadang mau negur authornya tapi takutnya malah jadi war -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: